Alunan ayat demi ayat amat merdu dibacakan oleh bapak-bapak yang
mengaji. Banyak di antara mereka yang tetap duduk manis di masjid usai
sholat Maghrib. Namun, kemanakah para generasi mudanya?
Waktu aku
masih kecil, setiap hari sehabis sholat Maghrib, ramai-ramai anak kecil
seusiaku belajar mengaji. Sepuluh menit sebelum adzan,
kami berbondong-bondong berangkat ke masjid dengan tidak lupa membawa
mukena. Saat itu, aku masih membaca Iqro.
Selesai sholat, kami
mulai mengaji. Suara kami bergantian dan bersahutan membaca huruf-huruf
Hijaiyah. Dengan didampingi guru, aku semakin paham akan berbagai
tajwid. Hingga pada akhirnya, tibalah saatnya untuk melanjutkan Iqro 6
ke Alquran.
Sepuluh atau bahkan dua puluh tahun yang lalu, kita
biasa hidup di tengah masyarakat yang secara rutin mengaji. Begitu
Maghrib, kita semua masuk ke majelis taklim atau pesantren untuk
menjalankan ibadah tersebut.
Budaya Maghrib mengaji merupakan
istilah yang begitu melekat dalam kebiasaan masyarakat Indonesia dari
berbagai kalangan. Mulai dari desa terpencil yang sepi, hingga kota
besar yang penuh hingar bingar kehidupan duniawi, semua tahu itu. Semua
mengenal bahwa mengaji merupakan aktivitas yang akrab dalam
sosiodemografis Islam Indonesia yang heterokultural dan agamis.
Sayangnya,
rutinitas tersebut mulai luntur akibat perubahan pola perilaku
masyarakat modern. Budaya ini terasa semakin luntur seiring majunya
teknologi informasi, khususnya televisi. Berbagai tayangan seakan
sengaja ditampilkan selepas Maghrib, agar perhatian semua orang bisa
terfokus pada televisi.
Sementara itu, beban mata pelajaran di
sekolah pun kian meninggi. Sehingga, anak-anak pulang sore dari sekolah
dan tidak sempat lagi mengaji di masjid.
Belum lagi kehadiran
berbagai media sosial yang seakan menghipnotis seluruh anak muda. Mereka
seperti terbuai akan kehadiran Facebook, Twitter, dan semacamnya itu.
Kemanakah teman-teman mengajiku dulu?
Sebenarnya kalau kita telaah lebih dalam, mengaji memberikan dampak yang luar biasa dalam berbagai aspek. Di antaranya, sbb:
-
Pertama, yaitu aspek afektif; Aspek ini secara tidak langsung mampu
mempengaruhi sifat anak menjadi lebih peka terhadap sifat ke-Tuhanan
atau Tauhid.
- Kedua, aspek kognitif; Dengan menghafal surat
pendek atau membaca susunan ayat Alquran, kita dapat memperkuat struktur
otak akan kemampuan mengingat dengan menggunakan daya nalar.
-
Ketiga, aspek psikomotorik; Dengan membaca Alquran menggunakan tekanan
dan lafal tertentu, kita dapat memperkuat pernapasan dan kesehatan otak
serta melancarkan aliran darah.
Begitu besarnya manfaat mengaji,
sehingga Menteri Agama RI Surya Darma Ali (SDA) mencanangkan "Gerakan
Maghrib Mengaji" atau disingkat “Gemar Mengaji”. Sayang, ide yang sangat
baik itu ternyata sebatas slogan.
Jika memang wacana itu bisa
direalisasikan, setidaknya anak-anak atau remaja yang sedang tumbuh
berkembang di tengah arus globalisasi dan liberalisasi ini bisa
membendung masuk pemikiran negatif. Sebab dengan mengaji, sejatinya bisa
menjadi penyaring hal-hal buruk.
Refleksi diri
“Bacalah
dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang menciptakan. Dia telah menciptakan
manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmulah yang Maha pemurah.
Yang mengajar (manusia) dengan perantaran kalam. Dia mengajar kepada
manusia apa yang tidak diketahuinya.” (QS. Al-Alaq:1-5).
Bacalah,
itulah firman Allah kepada Nabi Muhammad Saw. Berawal dari aktivitas
membaca, semua rahasia ilmu akan terbuka. Dengan membaca, kita dapat
membuka pintu gerbang pengetahuan yang sebelumnya tidak pernah kita
ketahui.
Membaca sudah menjadi awal dari wahyu ke-Tuhanan. Hal
ini memberi gambaran dan pemhaman bagi orang yang berpikir, bahwa
aktivitas membaca sangat penting di hadapan Tuhan. Tentunya, aktivitas
membaca memberi makna dan manfaat yang dahsyat bagi manusia yang
membiasakannya.
Kalau dicermati lebih dalam, perintah membaca di
atas bersifat umum. Meskipun demikian, aktivitas membaca Alquran
hendaknya lebih mendapat prioritas. Dengan membaca Alquran, manusia akan
mendapatkan kebahagiaan dunia dan akherat.
"Ironis dan
menyedihkan", itulah komentar yang pantas diberikan kepada masyarakat
Islam yang enggan membaca. Akhirnya, perlu kita renungi kembali makna
wahyu pertama (QS.Al-Alaq:1-5) agar kita mampu menjadi manusia yang
intelek, bangsa yang maju, bangsa yang terkenal dengan budaya dan
peradaban yang tinggi di tingkat intelektual. Apakah kebiasaan mengaji
mengurangi waktu 24 jam kita?
Kalau tidak dimulai dari diri sendiri, siapa lagi?
Dimuat di Republika Online pada 19 Desember 2012
LINK: http://www.republika.co.id/berita/jurnalisme-warga/wacana/12/12/19/mf9lbj-maghrib-mengaji
No comments:
Post a Comment